Kebiasaan yang sudah berjalan hampir satu abad, menjadi sebuah tradisi yang sudah menjadi identitas lokal, tepatnya di desa Mojowarno Kabupaten Jombang, waktu seolah bergerak lebih lambat, mengikuti musim Di sinilah, setiap tahun, sebuah perayaan sakral sekaligus meriah digelar yakni Tradisi Riyaya Undhuh-Undhuh.
Kata undhuh—dalam bahasa Jawa berarti memanen—bukan sekadar penanda akhir dari masa bercocok tanam. Ia adalah riyaya, hari raya agung, sebuah puncak syukur yang telah dipupuk sejak biji padi pertama ditanam.
Selain itu Undhuh-Undhuh di Mojowarno adalah perwujudan nyata dari keharmonisan itu. Ia bukan sekadar ritual gereja, melainkan sebuah budaya sekaligus perwujudan Syukur atass rezeki panen yang telah diberikan. Dimana (persembahan) hasil bumi—berupa gunungan sayur, buah, padi, hingga ternak—dibawa dengan penuh sukacita, diarak dalam prosesi yang meriah menuju pelataran gereja. Setiap tangkai padi, setiap butir jagung, adalah doa yang diucapkan tanpa kata, sebuah persembahan terbaik sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup.
Keunikan-keunikan tersebut tidaklah lepas dari pengaruh-pengaruh para tokoh terdahulu seperti Pendeta Jellesma, Paulus Tosari dan J.kruyt. kecintaan mereka terhadap Mojowarno telah memberikan ciri khusus terhadap jemaat Mojowarno.
Terbukti adanya bangunan GKJW Mojowarno dengan menjadi sebuah hasil Sejarah serta perkembangan Pendidikan dengan adanya Sekolah dan Rumah Sakit.
Sedangkan tradisi jawa juga masih dipertahankan adanya kegiaan bancak-an yang terbungkus dalam upacara kebetan, keleman dan ibadah syukur. Dengan mempertahankan nilai, makna serta simbol -simbol tradisional.